Langsung ke konten utama

SANGGAR LANGGAM BUDAYA MANAJEMEN DAKWAH


Sanggar Langgam Budaya adalah sebuah hasil cipta dan karya serta kreatifitas mahasiswa manajemen dakwah. Sanggar Langgam Budaya dibentuk sebagai bukti tingginya kreatifitas mahasiswa Manejemen Dakwah yang sangat diapresiasi oleh seluruh civitas akademika Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Sanggar Langgam Budaya berdiri pada tanggal 29 April 2013, bertepatan dengan MILAD Manajemen Dakwah ke-11 pada beberapa tahun yang silam. Pada tahun dan moment itu pulalah Sanggar Langgam Budaya perdana menampilkan hasil kreatifitasnya, yaitu ketika MILAD Manajemen Dakwah ke-13.
Adapun kepengurusan Sanggar Langgam Budaya Manajemen Dakwah pada saat ini telah sampai kepada peride ke-3, yaitu dibawah pimpinan saudara Muhammad Yusuf. Berikut informasi yang diberikan kepada penulis pada wawancara beberapa pekan yang lalu :
SUSUNAN KEPENGURUSAN SANGGAR LANGGAM BUDAYA
Pelindung                                Pelindung                            : Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi
                                                                                                    (Dr.Yasri Yazid, MIS)
Penasehat                            : Wakil Dekan I (Dr.Elfiandri, M.Si)
                                                  Wakil Dekan II (Dr.Masrun, MA)
                                                  Wakil Dekan III (Dr.Kadar, M.Ag)
Pembina                               : Ketua Jurusan MD (Rafdeadi, S.Sos.I.,MA)
Pendamping/Pelatih         : Pipir Romadi, S.Kom.I
Ketua                                     : Muhammad Yusuf
Sekretaris                             : Rizal Zain
Bendahara                           : Titin Nurhayati
Kabid.Tata Rias & Busana: Rexsa Amanda Putri
Anggota                                 : Salimudin
                                                  Nurfadilah
Kabid.Perlengkapan          : Zulfadli
Anggota                                 : Riki Mei Syahputra
                                                  Muhklis Hasbie
Kabid.Teater & Tari           : Maimunah
Anggota                                 : Piqih Khairunnas
                                                  Rina Yola
Kabid.Vokal & Musik         : Marzuki
Anggota                                 : Safril
                                                  Shiyamil Awaliyah
            Sanggar Langgam Budaya ini hadir membawa warna berbeda di jurusan Manajemen Dakwah. Disamping itu pula, dengan difasilitasi sebuah sanggar itu, kini mahasiswa Manajemen Dakwah dapat menyalurkan bakat seninya, baik itu tari, vokal, drama teather, dan sebagainya.
Prestasi yang telah diukir Sanggar Langgam Budaya sebagaimana wawancara penulis dengan ketua Sanggar yaitu Saudara M.Yusuf, beliau mengatakan bahwa “Sanggar Langgam Budaya telah banyak performance diberbagai acara baik yang diselenggarakan oleh Jurusan maupun pihak Fakultas, seperti : MILAD Manajemen Dakwah dan sudah dua kali berturut-turut dipercaya mengisi acara Yudisium Fakultas Dakwah dan Komunikasi pada beberapa waktu yang lalu.”
Maka pada akhirnya beliau berharap Semoga Sanggar Langgam Budaya semakin maju dan bisa menjadi wadah untuk mengembangkan jiwa-jiwa seni yang ada dalam diri Mahasiswa Manajemen Dakwah. (DAT)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PAHLAWAN DAN PENGHIANAT (Oleh: Imron Rosidi, artikel ini telah dimuat oleh Riau Pos, 10 November 2018)

Menyambut hari pahlawan tanggal 10 November ini, kita diminta merenung kembali tentang makna pahlawan. Berpuluh tahun yang lalu, pahlawan adalah mereka yang berjuang untuk kemerdekaan dan kedaulatan tanah air tercinta. Mereka berjuang tanpa pamrih. Mereka berjuang dengan semangat dan dedikasi yang luar biasa. Mungkin, diantara sekian puluh nama pahlawan yang telah tercatat di lembaran Negara, masih terdapat sekian juta pahlawan yang belum tercatat. Hal itu wajar saja sebab pahlawan tidak meminta tanda jasa. Pahlawan tidak berambisi untuk mendapatkan  penghargaan. Kalau ada seseorang yang meminta gelar pahlawan, justru akan dianggap aneh oleh masyarakat. Predikat pahlawan sangat layak diberikan kepada seseorang yang berjuang di luar batas kewajiban yang diembannya dengan luar biasa untuk kepentingan kemanusiaan. Gelar pahlawan kurang layak diberikan kepada seseorang yang berjuang karena tugas. Seorang hakim yang berjuang dengan keras untuk menegakkan keadilan kurang pantas disebut pah

Peran Pemuda dalam Merawat Kebhinekaan

Peserta Lombok Youth Camp 2018 perwakilan Riau Negeri yang terbentang luas dari Nanggroe Aceh Darussalam hingga Papua ini merupakan negeri yang damai.  Bumi yang terdiri dari belasan ribu pulau ini  diisi oleh berbagai keberagaman dan perbedaan yang tumbuh dalam masyarakatnya. Dimana lagi bisa ditemukan suara azan bersahut-sahutan dengan nyanyian di gereja selain di Indonesia? Dimana lagi bisa dijumpai sebuah desa yang warganya hidup rukun walaupun satu sama lain berbeda agama? Dimana lagi kita berpapasan dengan toleransi, ramah tamah, dan kesopanan orang-orang selain di Indonesia? Indonesia begitu sempurna, dengan segala anugerah yang telah Tuhan berikan untuk negeri ini. Berdasarkan ungkapan tersebut, telah jelas bahwa Indonesia mestinya menjadi bangsa yang besar dengan segala perbedaan yang ada didalamnya. Indonesia harusnya bisa menjadi kiblat peradaban segala bangsa, baik timur maupun barat. Untuk mewujudkan itu semua, selalu ada bagian yang urgent dalam menggapai cita-cita

Gerakan Bina Damai Sebagai Upaya Efektif untuk Meminimalisir Gerakan Sosial Intoleran

Tri kerukunan umat beragama, demikian konsep pemerintah Indonesia dalam upaya menciptakan kerukunan masyarakat antar umat beragama. “Tri kerukunan” merupakan istilah yang menjadi harapan agar perbedaan ras, suku, dan etnis, tidak menjadi masalah bagi antar umat beragama. Tidak bisa kita pungkiri, bahwa perbedaan bisa memicu lahirnya konflik.  Tetapi seharusnya, karena perbedaan inilah kita bersatu saling menguatkan. Sesuai dengan semboyan Negara Indonesia Bhinneka Tunggal Ika. Fakta yang ada terkait kekerasan karena perbedaan keyakian cukup memilukan, berdasarkan hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) bersama Yayayan Denny JA periode 1998 - 2012 menemukan sebanyak 65% dari 2398 kasus kekerasan terjadi karena kasus beda agama atau paham agama. Jelas hal ini sangat memprihatinkan , tidak berlebihan jika kita sebut ini tragedi. Sampai detik ini, masih banyak berita hangat mengenai konflik umat beragama di negeri yang kita cintai ini. Mulai dari bom bunuh diri disebuah masjid