Langsung ke konten utama

Gerakan Bina Damai Sebagai Upaya Efektif untuk Meminimalisir Gerakan Sosial Intoleran

Tri kerukunan umat beragama, demikian konsep pemerintah Indonesia dalam upaya menciptakan kerukunan masyarakat antar umat beragama. “Tri kerukunan” merupakan istilah yang menjadi harapan agar perbedaan ras, suku, dan etnis, tidak menjadi masalah bagi antar umat beragama. Tidak bisa kita pungkiri, bahwa perbedaan bisa memicu lahirnya konflik.  Tetapi seharusnya, karena perbedaan inilah kita bersatu saling menguatkan. Sesuai dengan semboyan Negara Indonesia Bhinneka Tunggal Ika.
Fakta yang ada terkait kekerasan karena perbedaan keyakian cukup memilukan, berdasarkan hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) bersama Yayayan Denny JA periode 1998 - 2012 menemukan sebanyak 65% dari 2398 kasus kekerasan terjadi karena kasus beda agama atau paham agama. Jelas hal ini sangat memprihatinkan , tidak berlebihan jika kita sebut ini tragedi.
Sampai detik ini, masih banyak berita hangat mengenai konflik umat beragama di negeri yang kita cintai ini. Mulai dari bom bunuh diri disebuah masjid hingga pembakaran gereja. Banyak kasus ketegangan antar pemeluk agama yang kita dengar. Banyak pula aksi aksi kekerasan yang mengatasnamakan agama.
Pertanyaanya sekarang, apakah benar agama menjadi salah satu penyebab kekerasan? Jalaludin Rakhmat, sorang akademisi muslim mengatakan bahwa menentukan apakah agama menyebabkan tindakan kekerasan tidak mudah. Ia mengatakan bahwa sering terjadi motif-motif keagamaan itu dimanfaatkan oleh institusi-institusi sekular untuk memecah belah kerukunan umat.
Berdasarkan hasil survei peneliti Kebebasan Beragama Setara Institute pada sepanjang tahun 2016, tercatat bahwa ada 208 peristiwa kekerasan terhadap kebebasan beragama dan berkeyakinan yang diiringi dengan 207 tindakan. Angka tersebut meningkat apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sepanjang tahun 2015 tercatat ada 197 peristiwa dan 236 tindakan.
Menyedihkan sekali jika kita berkaca pada hasil penelitian tersebut. Negara yang terdiri dari berbagai ras, suku, dan agama ini mengalami kemunduran dan kerusakan moral. Bangsa ini telah mengesampingkan cita cita luhur para pendiri bangsa. Bandingkan bagaimana toleransi dimasa perjuangan merebut kemerdekaan dahulu. Dari sabang sampai merauke, dengan perbedaan yang ada mereka saling bahu membahu merebut kemerdekan dalam kesatuan yang utuh. Bukan malah terpecah belah seperti dimasa generasi Z ini hidup.
Perpecahan umat beragama biasanya terjadi karena mudahnya umat terprofokasi atas isu intoleransi beragama. Kebanyakan dari umat yang mudah terprofokasi adalah umat yang kualitas pendidikannya masih rendah. Perlu kita perhatikan pula, bahwa tidak semua perpecahan dipicu oleh umat yang agamanya berlainan, namun ada pihak ketiga yang berusaha menghancurkan martabat bangsa yang menjunjung persatuan. Media sosial juga sangat berpengaruh dalam peningkatan isu intolerir ini. Mudahnya menyebarkan hate speech dan berita hoax menjadikan pengguna internet sulit memilah mana berita yang patut dipercayai dan mana yang tidak.
Menurut Giddens (Nanang:2014) gerakan sosial adalah gerakan yang ada karena adanya keinginan untuk membuat atau menghalangi perubahan sosial. Gerakan sosial biasanya adalah kelompok yang secara spontan membentuk aliansi guna mewujudkan cita-cita bersama.
Intoleransi merupakan sebuah perilaku yang tidak menghargai orang lain, tidak adanya tenggang rasa terhadap orang lain. Sungguh mengherankan mengapa Indonesia yang penduduknya sekitar 80% muslim dan cinta kedamaian memiliki banyak sekali kasus intoleransi beragama. Sebagai negara demokrasi, karakter khas Indonesia seharusnya adalah menjunjung tinggi hak asasi manusia. Menghargai segala bentuk kebebasan orang lain yang telah diatur dalam UUD 1945. Kebebasan beragama telah diatur dalam UUD 1945 pasal 29, lantas masihkah kita melarangnya menganut salah satu agama?
Belakangan memang, citra kita ternoda oleh ketegangan-ketegangan antar umat beragama dan kekerasan sosial lainnya.  Seperti luka yang disiram air garam rasanya, saat mengetahui pengkeroyokan ataupun pembakaran rumah ibadat banyak dilakukan oleh oknum-oknum yang mengaku beragama islam khususnya. Gerakan intoleran seperti ini, selain merusak citra bangsa juga merusak citra agama islam.  Agama islam menyuruh untuk mencintai sesama, bahkan pada zaman Rasulullah Shalllallahu ‘Alaihi Wasallam seorang non muslim yang hidup dibawah kepemimpinan negara muslim dijaga seutuhnya, baik jiwa maupun hartanya. Tidak malukah kita terhadap Rasulullah yang kita klaim sebagai contoh suri teladan bagi kita dalam menjalani kehidupan?
Akibatnya banyak bermunculan gerakan-gerakan intoleran yang telah meresahkan masyarakat Indonesia sekarang ini. Mulai dari aksi kekerasan dalam penggrebekan sebuah tempat hiburan, pembakaran gereja, bom bunuh diri didalam masjid, pembubaran terhadap pengajian yang tidak sealiran dengannya dan lain sebagainya. Satu hal yang membuat kita geleng geleng kepala adalah orang-orang yang terlibat dalam gerakan intoleran yang membuat terror dan keresahan masyarakat ini mengatasnamakan agama. Lucunya lagi, mereka mengatakan gerakan yang demikian adalah suatu bentuk perjuangan dijalan Tuhan.
Pola bina damai, merupakan program yang telah dicanangkan oleh pemerintah indonesia dalam meminimalisir kekerasan terhadap perbedaan agama. Banyak seminar-seminar nasional yang telah mengangkat tema ini. Dalam proses penjalanan programnya, tindakan kekerasan karena perbedaan keyakinan yang terjadi akan dimediasi secara kekeluargaan tanpa harus ricuh dan angkat senjata. Program bina damai merupakan sebuah cara baru untuk mewujudkan kedamaian dan kenyamanan yang hakiki bagi setiap umat beragama .
Pengalaman penulis terkait dengan gerakan bina damai terlaksana pada bulan Mei 2016. Gerakan bina damai ini dilakukan oleh organisasi Pemuda Muhammadiyah Cabang Siabu Kabupaten Mandailing Natal Provinsi Sumatera Utara. Tepatnya di Desa Sibaruang Kecamatan Siabu, awal cerita konflik terjadi ketika ada kelompok umat kristen yang mencucui darah babi dihulu sungai yang ditepi sungainya ia beternak babi . Aliran sungai tersebut adalah aliran air yang menjadi pelengkap kebutuhan masyarakat Desa Sibaruang. Mulai dari memasak, mencucui piring, mandi, hingga berwudhu bagi umat muslim. Pada awalnya konflik belum pecah, namun saat beberapa orang mandi di pemandian yang letaknya berdekatan dengan masjid, mereka mencium aroma yang tidak enak dari air yang mereka gunakan unutk mandi. Kebetulan sekali, beberapa jam setelah itu di kedai kopi, ada saksi mata yang bercerita telah melihat beberapa orang mencuci darah babi dikebun. Merasa dibodohi, orang-orang yang ada di kedai kopi langsung menuju rumah tersangka. Terjadilah adu mulut disana, dengan emosi yang berlebihan akhirnya baku hantan tak terelakkan. Tersangaka babak belur dan dilaporkan ke rumah kepala desa. Kemudian pemerintahan desa menyerahkan permasalahan ini kepada Muhammadiyah Cabang Siabu karena permasalahan ini berkaitan dengan agama. Muhammadiyah Cabang Siabu ditunjuk pun karena mayoritas muslim di Desa Sibaruang terlibat dalam organisasi Muhammadiyah.
Gerakan bina damai yang kami lakukan, dengan cara mediasi antara umat muslim dan kristen berlangsung beberapa jam. Pada akhirnya kami mendapatkan sebuah soluisi atas permasalahan ini. Karena tidak ingin ada salah satu pihak yang dirugikan maka keputusan yang dapat kami ambil dan disetujui bersama adalah tidak memperbolehkan umat Kristen beternak babi, dan tidak mmperbolehkan umat islam beternak kambing.
Yayasa Nusatenggara Center akan mengadakan pelatihan kepemudaan terkait pola bina damai. Acara akan diselenggarakan pada 16-20 Desember 2017 di Lombok. Pada kesempatan itu, penulis diamanahkan mewakili kampus mengikuti kegiatan tersebut. Dari sinilah kita bisa mengambil pelajaran bahwa gerakan bina damai adalah salah satu solusi yang baik dalam meminimalisir kasus kekerasan karena perbedaan agama. Selain cara ini bersifat kekeluargaan, gerakan bina damai juga memungkinkan kira memberi pernyataan pernyataan keresahan yang kita miliki dihadapan orang-orang yang ikut serta dalam mediasi.
Di sinilah seharusnya mahasiswa mengambil satu peran penting dalam memajukan bangsa ini. Mahasiswa adalah calon pengganti pemimpin masa kini yang akan membawa kemana arah bangsa ini kedepannya. Dalam syair arab dikatakan “syubbanul yaum rijalul ghod” artinya pemuda sekarang adalah pemimpin di masa depan. Presiden pertama Indonesia juga mengatakan “beri aku 10 pemuda maka akan ku guncangkan dunia”. Berapa vitalnya peranan seorang pemuda yang dalam tulisan ini ditujukan kepada para mahasisiwa. Mahasiswa secara luas bukan hanya mereka yang setiap hari bolak-balik menimba ilmu ke kampus, namun hakikat mahasiswa adalah pemuda yang mampu melihat permasalahan umat dan mampu memberi solusi atas permasalahan tersebut.
Untuk meminimalisir gerakan sosial intoleran, maka rekasaya sosial yang seharusnya dibuat serta dioptimalkan oleh mahasiswa antara lain :
1. Kembali kepada hakikat Pancasila
Pancasila adalah dasar Negara Indonesia. Di dalam silanya yang kedua disebutkan “kemanusiaan yang adil dan beradab”. Mari kita garis bawahi kata “beradab”. Adab dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya kehalusan dan kebaikan budi pekerti ; kesopanan; akhlak. Berarti, mahasiswa harus memiliki terlebih dahulu budi pekerti yang baik sehingga bisa menjaadi contoh baagi masyarakat.
2. Saling menghargai perbedaan keyakinan
Dalam ajaran agama islam, disebutkan bahwa untukmu agamamu dan untukku agamaku. Maksudnya bahwa, sebagai manusia yang diciptakan Tuhan untuk saling berbagi kasih, kita terutama mahasiswa mesti membiarkan saudara saudara kita yang berlainan agama untuk menjalankan ibadah menurut kepercayaannya. Jangan ada pemblokiran jalan masuk ke tempat ibadah, dan demonstrasi yang berakhir anarkis terhadap umat agama lain yang tidak seagama dengan kita.
3. Melakukan audiensi dengan tokoh tokoh setiap agama
Harapannya setelah melakukan kegiatan ini, tokoh terkemuka masing-masing agama mampu mensosialisasikan kepda jemaatnya untuk saling menjaga kerukunan antar umat beragama, dan terus menjaga nilai nilai luhur kearifan bangsa.
4. Jangan mudah terprovokasi terhadap isu
Mahasiswa adalah anak muda yang semangatnya berapi api, begitu ungkapan penyanyi senior dangdut Indonesia, Rhoma Irama. Tentu dengan semangat yang berapi api ini mahasiswa mudah termakan isu yang menyebar sekalipun itu hoax. Oleh karena itu, mahasiswa diharapkan jangan mudah terprovokasi untuk menghindari hal hal yang menyebabkan kericuhan dan kekeraasan.
5. Mengadakan sosialisasi kepada masyarakat terkait gerakan bina damai
Sebagai bentuk menjalankan tri dharma perguruan tinggi, mahasiswa mesti mengadakan sosialisasi mengenai gerakan bina damai ke daerah-daerah yang rawan kekerasan dan kericuhan karena perbedaan agama. Mahasiswa dituntut mampu menjelaskan dampak negatif kekerasan dan memberi ruang kepada masyarakat untuk mempelajari progam bina damai sehingga didapatkan solusi untuk mengentaskan kekerasan terhadap umat beda agama.
Apabila bangsa Indonesia mampu mematikan langkah gerakan intoleran keagamaan, maka bangsa Indonesia akan terbebas dari konflik antar umat beragama. Sehingga kenyamanan dan kerukunan bangsa akan terjalin dan bisa menjadi teladan bagi negara-negara lain dalam mengatasi konflik umat beragama. Oleh karena itu, kita sebagai mahasiswa diharapkan mampu membuat rekayasa sosial yang memajukan peradaban bangsa. Inilah peran mahasiswa yang dituntut menjadi agen sebuah perubahan dalam suatu bangsa. Dengan demikian, kita harus menyadari bahwa mahasiswa memiliki peran yang vital terhadap maju mundurnya peradaban sebuah bangsa. (Nurfauzy Lubis)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PAHLAWAN DAN PENGHIANAT (Oleh: Imron Rosidi, artikel ini telah dimuat oleh Riau Pos, 10 November 2018)

Menyambut hari pahlawan tanggal 10 November ini, kita diminta merenung kembali tentang makna pahlawan. Berpuluh tahun yang lalu, pahlawan adalah mereka yang berjuang untuk kemerdekaan dan kedaulatan tanah air tercinta. Mereka berjuang tanpa pamrih. Mereka berjuang dengan semangat dan dedikasi yang luar biasa. Mungkin, diantara sekian puluh nama pahlawan yang telah tercatat di lembaran Negara, masih terdapat sekian juta pahlawan yang belum tercatat. Hal itu wajar saja sebab pahlawan tidak meminta tanda jasa. Pahlawan tidak berambisi untuk mendapatkan  penghargaan. Kalau ada seseorang yang meminta gelar pahlawan, justru akan dianggap aneh oleh masyarakat. Predikat pahlawan sangat layak diberikan kepada seseorang yang berjuang di luar batas kewajiban yang diembannya dengan luar biasa untuk kepentingan kemanusiaan. Gelar pahlawan kurang layak diberikan kepada seseorang yang berjuang karena tugas. Seorang hakim yang berjuang dengan keras untuk menegakkan keadilan kurang pantas disebut pah

Peran Pemuda dalam Merawat Kebhinekaan

Peserta Lombok Youth Camp 2018 perwakilan Riau Negeri yang terbentang luas dari Nanggroe Aceh Darussalam hingga Papua ini merupakan negeri yang damai.  Bumi yang terdiri dari belasan ribu pulau ini  diisi oleh berbagai keberagaman dan perbedaan yang tumbuh dalam masyarakatnya. Dimana lagi bisa ditemukan suara azan bersahut-sahutan dengan nyanyian di gereja selain di Indonesia? Dimana lagi bisa dijumpai sebuah desa yang warganya hidup rukun walaupun satu sama lain berbeda agama? Dimana lagi kita berpapasan dengan toleransi, ramah tamah, dan kesopanan orang-orang selain di Indonesia? Indonesia begitu sempurna, dengan segala anugerah yang telah Tuhan berikan untuk negeri ini. Berdasarkan ungkapan tersebut, telah jelas bahwa Indonesia mestinya menjadi bangsa yang besar dengan segala perbedaan yang ada didalamnya. Indonesia harusnya bisa menjadi kiblat peradaban segala bangsa, baik timur maupun barat. Untuk mewujudkan itu semua, selalu ada bagian yang urgent dalam menggapai cita-cita