Langsung ke konten utama

Peran Pemuda dalam Merawat Kebhinekaan

Peserta Lombok Youth Camp 2018 perwakilan Riau
Negeri yang terbentang luas dari Nanggroe Aceh Darussalam hingga Papua ini merupakan negeri yang damai.  Bumi yang terdiri dari belasan ribu pulau ini  diisi oleh berbagai keberagaman dan perbedaan yang tumbuh dalam masyarakatnya. Dimana lagi bisa ditemukan suara azan bersahut-sahutan dengan nyanyian di gereja selain di Indonesia? Dimana lagi bisa dijumpai sebuah desa yang warganya hidup rukun walaupun satu sama lain berbeda agama? Dimana lagi kita berpapasan dengan toleransi, ramah tamah, dan kesopanan orang-orang selain di Indonesia? Indonesia begitu sempurna, dengan segala anugerah yang telah Tuhan berikan untuk negeri ini.
Berdasarkan ungkapan tersebut, telah jelas bahwa Indonesia mestinya menjadi bangsa yang besar dengan segala perbedaan yang ada didalamnya. Indonesia harusnya bisa menjadi kiblat peradaban segala bangsa, baik timur maupun barat. Untuk mewujudkan itu semua, selalu ada bagian yang urgent dalam menggapai cita-cita bangsa. Siapakah bagian tersebut? Presiden Indonesia Ir. Soekarno mengatakan “berikan aku sepuluh pemuda maka akan aku guncangkan dunia”, hal terpenting dari pernyataan beliau adalah peran seorang pemuda dalam membangun dan menjaga peradaban bangsa. Pemuda merupakan bagian paling penting untuk mewujudkan cita-cita tersebut.  
Pemuda yang lahir dari tanah Indonesia, meminum airnya, makan dari padinya, harus memiliki kontribusi sebagai penghormatan kepada bumi yang membesarkannya. Pemuda harus bisa melanjutkan tongkat estafet perjuangan bangsa, mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional, dan membangun peradaban umat yang modern. Pemuda bukan virus bagsa, penghambat pembangunan bangsa, dan perusak nilai luhur bangsa seperti yang banyak kita dengar.  
Jika ditarik garis lurus ke belakang, maka kita akan melihat keberhasilan sebuah bangsa adalah tergantung kepada pemudanya. Sejarah mencatat kemerdekaan bangsa Indonesia adalah berkat desakan dan perjuangan para pemudanya. Bagaimana pelajar dari seluruh penjuru nusantara bersatu membuah sebuah sumpah yang disebut Sumpah Pemuda.  Konstantinopel dikuasai Islam karena panglima muda yang usianya baru 17 tahun yang bernama Muhammad Al Fatih. Islam berhasil menyebarkan ajarannya ke seluruh penjuru dunia oleh pemuda, dan masih banyak contoh lain yang menambarkan keperkasaan pemuda dalam mencapai sebuah tujuan.
Pemuda ialah agent of change, mengubah tatanan hidup bangsa ke arah yang lebih baik, mesti mampu meminimalisir segala hal yan menjadi ancaman bagi bangsa Indonesia. Pemuda dituntut berpikir kritis, dinamis, dan mampu memberikan solusi terhadap permasalahan yang menimpa bangsa ini. Perbedaan agama, suku dan ras sebagai tunas permasalahan yang sering terjadi tidak boleh kita biarkan menjadi konflik yang berkepanjangan.
Salah satu bukti, bahwa berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh Lingkaran Survei Indonesia (LSI) bersama Yayayan Denny JA periode 1998 - 2012 menemukan sebanyak 65% dari 2398 kasus kekerasan terjadi karena kasus beda agama atau paham agama. Jelas hal ini sangat memprihatinkan , tidak berlebihan jika kita sebut ini tragedi. Untuk itu, solutor dalam menyelesaikan permasalahan ini adalah anak bangsa yang berkompeten dan memiliki komitmen tinggi bagi bangsanya. 
Hal yang demikian menghantui bangsa ini harus dituntaskan oleh para pemudanya, belum lagi permasalahan dari sektor yang lain. Pemuda bangsa Indonesia haarus bekerja keras, memikirkan nasib bansa ini kedepannya. Belum lagi korupsi, narkoba, terorisme, dan ekstrimisme yang selalu menjadi permasalahan yang hangat di negeri ini.
Oleh karena itu, pencegahan yang dapat dilakukan pemuda untuk mengatasi konflik yang tumbuh karena perbedaan ini adalah dengan mendesak pemerintah untuk memberikan penyuluhan disetiap daerah untuk materi nasionalisme & keindonesiaan. Apabila seseorang telah dididk sejak kecil untuk merawat kebhinekaan maka tidak diragukan lagi Indonesia di masa depan tidak akan memiliki masalah terkait perbedaan suku, ras, dan agama lagi. Opsi lain yaitu dengan memberikan tambahan pelajaran keagamaan disekolah-sekolah umum (bukan madrasah), karena agama merupakan pondasi terbaik untuk menghadapi dekadensi moral yang menyebabkan maraknya konflik yang terjadi di negara kita.
Namun demikian, apabila telah terjadi konflik yang dilakukan oleh oknum oknum tertentu, alangkah lebih baiknya dilakukan dialog dan sosialisasi agar memberikan suatu pandangan yan memperlihatkan keindahan keberagaman yang ada di negara Indonesia. Cara lain, yaitu dengan rehabilitasi pola pikir. Berdasarkan penjelasan orang-orang yang pernah bergabung dengan ISIS kepada BNPT (Badan Nasional Penanulangan Terorisme) kebanyakan dari mereka telah dicuci otaknya, diberikan iming-iming gaji besar sehingga mereka tertarik mengikutinya. Rehabilitasinya, dengan memberi pendekatan ilmiah bahwa untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, maka usaha yang dilakukan juga mesti diperbanyak. Bukan cara praktis yang tidak masuk logika. (Nurfauzy Lubis)

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

PAHLAWAN DAN PENGHIANAT (Oleh: Imron Rosidi, artikel ini telah dimuat oleh Riau Pos, 10 November 2018)

Menyambut hari pahlawan tanggal 10 November ini, kita diminta merenung kembali tentang makna pahlawan. Berpuluh tahun yang lalu, pahlawan adalah mereka yang berjuang untuk kemerdekaan dan kedaulatan tanah air tercinta. Mereka berjuang tanpa pamrih. Mereka berjuang dengan semangat dan dedikasi yang luar biasa. Mungkin, diantara sekian puluh nama pahlawan yang telah tercatat di lembaran Negara, masih terdapat sekian juta pahlawan yang belum tercatat. Hal itu wajar saja sebab pahlawan tidak meminta tanda jasa. Pahlawan tidak berambisi untuk mendapatkan  penghargaan. Kalau ada seseorang yang meminta gelar pahlawan, justru akan dianggap aneh oleh masyarakat. Predikat pahlawan sangat layak diberikan kepada seseorang yang berjuang di luar batas kewajiban yang diembannya dengan luar biasa untuk kepentingan kemanusiaan. Gelar pahlawan kurang layak diberikan kepada seseorang yang berjuang karena tugas. Seorang hakim yang berjuang dengan keras untuk menegakkan keadilan kurang pantas disebut pah

Gerakan Bina Damai Sebagai Upaya Efektif untuk Meminimalisir Gerakan Sosial Intoleran

Tri kerukunan umat beragama, demikian konsep pemerintah Indonesia dalam upaya menciptakan kerukunan masyarakat antar umat beragama. “Tri kerukunan” merupakan istilah yang menjadi harapan agar perbedaan ras, suku, dan etnis, tidak menjadi masalah bagi antar umat beragama. Tidak bisa kita pungkiri, bahwa perbedaan bisa memicu lahirnya konflik.  Tetapi seharusnya, karena perbedaan inilah kita bersatu saling menguatkan. Sesuai dengan semboyan Negara Indonesia Bhinneka Tunggal Ika. Fakta yang ada terkait kekerasan karena perbedaan keyakian cukup memilukan, berdasarkan hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) bersama Yayayan Denny JA periode 1998 - 2012 menemukan sebanyak 65% dari 2398 kasus kekerasan terjadi karena kasus beda agama atau paham agama. Jelas hal ini sangat memprihatinkan , tidak berlebihan jika kita sebut ini tragedi. Sampai detik ini, masih banyak berita hangat mengenai konflik umat beragama di negeri yang kita cintai ini. Mulai dari bom bunuh diri disebuah masjid