Langsung ke konten utama

PAHLAWAN DAN PENGHIANAT (Oleh: Imron Rosidi, artikel ini telah dimuat oleh Riau Pos, 10 November 2018)

Menyambut hari pahlawan tanggal 10 November ini, kita diminta merenung kembali tentang makna pahlawan. Berpuluh tahun yang lalu, pahlawan adalah mereka yang berjuang untuk kemerdekaan dan kedaulatan tanah air tercinta. Mereka berjuang tanpa pamrih. Mereka berjuang dengan semangat dan dedikasi yang luar biasa. Mungkin, diantara sekian puluh nama pahlawan yang telah tercatat di lembaran Negara, masih terdapat sekian juta pahlawan yang belum tercatat. Hal itu wajar saja sebab pahlawan tidak meminta tanda jasa. Pahlawan tidak berambisi untuk mendapatkan  penghargaan. Kalau ada seseorang yang meminta gelar pahlawan, justru akan dianggap aneh oleh masyarakat.
Predikat pahlawan sangat layak diberikan kepada seseorang yang berjuang di luar batas kewajiban yang diembannya dengan luar biasa untuk kepentingan kemanusiaan. Gelar pahlawan kurang layak diberikan kepada seseorang yang berjuang karena tugas. Seorang hakim yang berjuang dengan keras untuk menegakkan keadilan kurang pantas disebut pahlawan. Hal itu dikarenakan sudah menjadi kewajiban seorang hakim untuk menegakkan keadilan. Pejabat KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) yang  berhasil menangkap para koruptor kurang layak dianggap sebagai sosok pahlawan. Karena sejak awal dia diangkat menjadi pejabat KPK, tugas utamanya adalah memberantas korupsi. Tidak aneh jika di sejumlah Negara, gelar pahlawan sangat terbatas.
Pahlawan akan selalu dikenang dan dijadikan teladan oleh masyarakat. Sosok pahlawan merupakan spirit bagi masyarakat yang sedang terpuruk. Pada zaman kolonial, sosok pahlawan sangat diperlukan untuk memberikan suntikan kesadaran tentang makna perlawanan terhadap penjajahan. Memang, masyarakat yang sedang terpuruk akan selalu menanti kemunculan sosok pahlawan. Mereka mengharapkan tampilnya tokoh yang mampu memberikan spirit untuk kebangkitan. Sebuah masyarakat akan sulit mengalami kemajuan, jika di dalamnya tidak ada satupun sosok yang berjiwa pahlawan.
Pahlawan selalu bermimpi untuk merubah keadaan yang stagnan menuju kemajuan. Dia tidak berharap kekuasaan. Sosok pahlawan akan senantiasa berusaha untuk bergerak dan berkerja dari pojok yang paling tidak terlihat oleh mata manusia. Bagi pahlawan, kekuasaan adalah alat, bukan tujuan. Dalam Islam, sosok paling ideal yang bisa kita sebut pahlawan adalah Nabi Muhammad SAW.
Di dalam kehidupan ini, setiap hal pasti ada lawannya atau pasangannya. Malas memiliki lawan rajin.Hidup mempunyai pasangan mati. Pahlawan bisa saja dilawankan dengan penghianat.  Dengan demikian, mestinya, disamping gelar pahlawan nasional, ada gelar penghianat nasional.
Berbeda dengan pahlawan, penghianat senantiasa berfikir untuk kepentingan nafsunya. Jabatan bagi seorang penghianat adalah tujuan untuk memperbanyak materi dan mengangkat citranya. Dia senantiasa bermimpi untuk meningkatkan posisi kekuasaannya ke yang lebih tinggi. Dalam sejarah,sosok yang tepat kita jadikan cermin sebagai penghianat adalah Fir’aun. Karena posisi raja baginya kurang cukup, akhirnya dia mendeklarasikan dirinya sebagai Tuhan.
Pahlawan sangat sulit kita temukan di Negara ini, sementara penghianat berkeliaran di mana-mana. Harapan kita akan munculnya sosok pahlawan yang mampu memberikan obor bagi kemajuan negeri tercinta ini senantiasa pupus. Posisi negeri kita yang berada di peringkat atas dalam daftar Negara terkorup di dunia menandakan hal itu. Para punggawa Negara yang kita harapkan semangat dan jiwa pahlawannya, justru menampilkan jiwa dan spirit penghianat. Padahal para abdi Negara inilah yang paling pontensial memberikan spirit dan teladan bagi masyarakat. Kalau para abdi Negara berjiwa penghianat, masyarakat akan apatis dan senantiasa stagnan.
Pilkada Riau yang baru saja usai merupakan batu ujian bagi yang menang dan kalah, akankah mereka layak disebut pahlawan atau justru penghianat. Pelaku Pilkada yang kalah pantas disebut berjiwa pahlawan apabila mereka menerima hasil yang telah di release KPU (Komisi Pemilihan Umum) dan mendukung siapapun yang terpilih. Sikap pahlawan juga ditampilkan  oleh mereka yang kalah dengan seruan dan janji yang kuat untuk bersama-sama membangun Riau agar lebih sejahtera. Sebaliknya, jiwa penghianat akan telihat jika pelaku Pilkada yang kalah melakukan tindakan anarkis untuk melampiaskan ketidakpuasannya.
Pelaku Pilkada yang menang mengemban beban yang lebih berat karena predikat penghianat akan cenderung lebih dekat daripada pahlawan. Bagi pelaku Pilkada yang menang, melaksanakan amanat dan tugas-tugas jabatan yang diemban dengan sebaik-baiknya tidak akan dinilai sebagai sosok pahlawan sebab sudah menjadi tanggung jawab yang terpilih untuk melaksanakan tugas-tugas itu. Namun setidaknya kalau pelaku Pilkada terpilih benar-benar melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik dengan dedikasi yang tinggi demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Riau, niscaya jiwa pahlawan terpancar dan memberikan spirit kepada masyarakat Riau untuk bersama-sama bergerak dan membangun untuk kemajuan. Sebaliknya, jika pelaku Pilkada yang menang tidak mengemban amanat dengan baik, gelar penghianat sangat pantas diberikan kepadanya.
Kalau harapan akan tampilnya sosok pahlawan terlalu mewah sekarang ini, maka masyarakat merindukan terpancarnya jiwa pahlawan dari para pemimpin kita. Jiwa pahlawan bagi kita cukuplah diartikan dengan bahasa sederhana yakni melayani masyarakat dengan baik, melaksanakan tugas-tugas dengan semangat tinggi, dan menghindari KKN. Jika jiwa pahlawan terpancar dari para pemimpin kita, kemajuan dan kesejahteraan  bukanlah mimpi lagi buat kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran Pemuda dalam Merawat Kebhinekaan

Peserta Lombok Youth Camp 2018 perwakilan Riau Negeri yang terbentang luas dari Nanggroe Aceh Darussalam hingga Papua ini merupakan negeri yang damai.  Bumi yang terdiri dari belasan ribu pulau ini  diisi oleh berbagai keberagaman dan perbedaan yang tumbuh dalam masyarakatnya. Dimana lagi bisa ditemukan suara azan bersahut-sahutan dengan nyanyian di gereja selain di Indonesia? Dimana lagi bisa dijumpai sebuah desa yang warganya hidup rukun walaupun satu sama lain berbeda agama? Dimana lagi kita berpapasan dengan toleransi, ramah tamah, dan kesopanan orang-orang selain di Indonesia? Indonesia begitu sempurna, dengan segala anugerah yang telah Tuhan berikan untuk negeri ini. Berdasarkan ungkapan tersebut, telah jelas bahwa Indonesia mestinya menjadi bangsa yang besar dengan segala perbedaan yang ada didalamnya. Indonesia harusnya bisa menjadi kiblat peradaban segala bangsa, baik timur maupun barat. Untuk mewujudkan itu semua, selalu ada bagian yang urgent dalam menggapai cita-cita

Gerakan Bina Damai Sebagai Upaya Efektif untuk Meminimalisir Gerakan Sosial Intoleran

Tri kerukunan umat beragama, demikian konsep pemerintah Indonesia dalam upaya menciptakan kerukunan masyarakat antar umat beragama. “Tri kerukunan” merupakan istilah yang menjadi harapan agar perbedaan ras, suku, dan etnis, tidak menjadi masalah bagi antar umat beragama. Tidak bisa kita pungkiri, bahwa perbedaan bisa memicu lahirnya konflik.  Tetapi seharusnya, karena perbedaan inilah kita bersatu saling menguatkan. Sesuai dengan semboyan Negara Indonesia Bhinneka Tunggal Ika. Fakta yang ada terkait kekerasan karena perbedaan keyakian cukup memilukan, berdasarkan hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) bersama Yayayan Denny JA periode 1998 - 2012 menemukan sebanyak 65% dari 2398 kasus kekerasan terjadi karena kasus beda agama atau paham agama. Jelas hal ini sangat memprihatinkan , tidak berlebihan jika kita sebut ini tragedi. Sampai detik ini, masih banyak berita hangat mengenai konflik umat beragama di negeri yang kita cintai ini. Mulai dari bom bunuh diri disebuah masjid